
PEMBELAJARAN dan SOAL HOTS
Menyimak dan memahami ulasan opini dari tulisan Dosen STIKIP PGRI Banjarmasin, penulis Buku Matematika Sekolah, dengan judul “ Pembiasaan HOTS dalam Pembelajaran Matematika”. Dalam salah satu tulisan opini tersebut, kebijakan Kemdikbud untuk menghadirkan lebih banyak lagi soal level HOTS (higher Order Thinking Skills) dalam UNBK 2019, pada mapel Matematika, seyogyanya diimbangi dengan pembiasaan menyesipkan soal level HOTS dalam rutinitas pembelajaran Matematika. Memang benar, adanya penerapan soal level HOTS dalam ujian, diharapkan bisa melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan analitis.
Perubahan paradigma pembelajaran semestinya mulai dilakukan oleh guru dalam upaya menyikapi kondisi yang berkembang dalam dunia pendidikan. Salah satunya terkait dengan pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS yang sudah diterapkan di sekolah selama beberapa tahun terakhir ini, termasuk dalam soal-soal ujian nasional. Guru perlu menyikapi dan menerapkan pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimilikinya, sehingga pembelajaran dan penilaian lebih bermakna.
Kurikulum 2013 yang kini sudah diterapkan menyeluruh pada semua jenjang sekolah mengaplikasikan pembelajaran yang berbasis HOTS dengan berbagai model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Menggunakan model pembelajaran berbasis HOTS selama ini memang belum maksimal diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran dan penilaian. Secara teoritis, pembelajaran berbasis HOTS pada Taksonomi Bloom termasuk dalam level kognitif C4 (analisis), C5 (evaluasi), dan C6 (mencipta).
Level C4 (analisis) merupakan level dengan tingkat kemampuan untuk memisahkan hal-hal yang telah dipelajari ke dalam komponen yang lebih kecil dan menunjukkan hubungan antar bagian-bagian tersebut. Level C5 (evaluasi), merupakan tingkatan kemampuan untuk melakukan penilaian, evaluasi terhadap suatu pengetahuan atau materi dibanding kriteria yang ada. Sedangkan C6 (mencipta) yang merupakan tingkat kemampuan untuk menyatukan kembali ide-ide atau pengetahuanpengetahuan yang terpisah menjadi satu kesatuan yang utuh dan baru atau memperlihatkan hubungan yang baru.
Sementara itu, dalam proses pembelajaran terjadi transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Dalam tranfer pengetahuan tersebut, ada beberapa bentuk pengetahuan yang ditransfer, yaitu (1) Pengetahuan faktual yakni pengetahuan terminologi atau pengetahuan detail yang spesifik dan elemen. Contoh fakta bisa berupa kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca, atau diraba. Seperti mesin mobil hidup, lampu menyala, rem yang pakem/blong. Contoh lain: arsip dan dokumen; (2) Pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan yang lebih kompleks berbentuk klasifikasi, kategori, prinsip dan generalisasi. Contohnya fungsi kunci kontak pada mesin mobil, prinsip kerja starter, prinsip kerja lampu, prinsip kerja rem. Contoh lain: pengertian arsip dan dokumen, fungsi arsip dan dokumen.
Kemudian, (3) Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu termasuk pengetahuan keterampilan, algoritma (urutan langkah-langkah logis pada penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis), teknik, dan metoda seperti langkah-langkah membongkar engine, langkah-langkah mengganti lampu, langkahlangkah mengganti sepatu rem. Contoh lain: Langkah-langkah menyusun arsip sistem alphabet dan geografik; dan (4) Pengetahuan metakognitif yaitu pengetahuan tentang kognisi (mengetahui dan memahami) yang merupakan tindakan atas dasar suatu pemahaman meliputi kesadaran dan pengendalian berpikir, serta penetapan keputusan tentang sesuatu. Sebagai contoh memperbaiki engine yang rusak, membuat instalasi kelistrikan lampu, mengapa terjadi rem blong. Contoh lain: Apa yang terjadi jika penyimpanan arsip tidak tepat?
Selama guru mau dan berusaha mengembangkan pembelajaran dan penilaian atau soal berbasis HOTS, maka diharapkan akan memberikan dampak positif dalam peningkatan prestasi dan makna pembelajaran bagi siswa. Pembelajaran dan penilian merupakan satu kesatuan yang utuh. Semoga.
###1464###