
SISWA, GURU, dan GERAKAN LITERASI
Menurut sebuah buku “ KIAT MENULIS BAGI PEMULA”, yang disusun oleh oleh Choirul Listiani & Estina Ekawati Widyaiswara PPPPTK Matematika (2018), bahwa hasil skor Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) / Indonesia National Assessment Programme (INAP) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains bagi anak sekolah dasar juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Secara nasional, yang masuk kategori kurang untuk kemampuan matematika sebanyak 77,13%, kemampuan membaca 46,83%, dan kemampuan sains 73,61%.
Hasil survei tersebut mengisyaratkan bahwa minat baca dan literasi bangsa Indonesia merupakan persoalan yang harus ditangani dengan serius. Minat baca dan literasi bangsa kita harus menyamai dan bahkan lebih tinggi daripada bangsa lain yang sudah maju agar bangsa Indonesia juga berperan dalam percaturan di era global. Setakat ini literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dipahami sebagai kemampuan memanfaatkan hasil bacaan tersebut untuk kecakapan hidup pembacanya. Oleh karena itu, literasi dalam konteks baca-tulis menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Bagi siswa, membaca dan menulis merupakan aktivitas yang akrab dan selalu dilakukan setiap hari dalam proses pembelajaran di kelas. Persoalannya, mengapa tingkat kemampuan membaca siswa kita rendah? Dengan melihat dan memperhatikan deskripsi data tersebut di atas, dapat diketahui bahwa kemampuan membaca siswa sekolah dasar atau SD termasuk katagori kurang, dengan 46,83% saja, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca tersebut. Guru menjadi salah satu pihak yang berperan penting dalam mendorong kemampuan siswa membaca, karena melalui peran guru di kelas dapat membangkitkan dan memotivasi siswa untuk membaca.
Apa yang terjadi di sekolah selama ini terhadap minat dan kemampuan membaca siswa, tidak terlepas dari kondisi yang ada di sekitarnya. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Orangtua, guru, dan lingkungan turut berperan dalam masalah tersebut. Orangtua, sebagai pihak yang sangat dekat dan selalu bersama dengan siswa, memberikan pengaruh besar bagi perkembangan dan kepribadian anak. Apa yang menjadi kebiasaan di dalam kehidupan keluarga atau rumahnya, maka hal tersebut akan berperan besar terhadap perkembangan dan kepribadian siswa di sekolah, termasuk salah satunya masalah minat dan kemampuan membaca siswa.
Siswa yang berasal dari orangtua atau keluarga yang sudah akrab dan hobby membaca, akan terlihat dalam perilaku siswa tersebut di sekolah, dan demikian pula sebaliknya. Minat dan kemampuan membaca siswa di sekolah ada kolerasinya dengan kebiasaan dari kehidupan orangtua atau keluarganya. Tentu yang dimaksud dengan minat dan kemampuan membaca siswa tersebut terkait dengan membaca buku atau bahan bacaan lainnya, bukan dalam konteks mambaca status dalam hanphone atau sejenisnya seperti yang banyak terjadi sekarang ini.
Sementara itu, peran guru juga dapat memberikan andil besar bagi upaya meningkatkan minat dan kemampuan membaca siswa di sekolah. Selama mengikuti pembelajaran di kelas, guru dapat menumbuhkan minat dan kemampuan membaca siswa melalui kegiatan pembelajaran di kelas, baik yang sudah terprogram dalam perencanaan pembelajaran maupun yang bersifat spontan. Proses pembelajaran, semua mata pelajaran, dapat dilakukan upaya membaca sebelum, saat, atau sesudahnya. Menurut pengalaman penulis selama ini, belum banyak guru yang menerapkan siswa membaca sejenak sebelum proses pembelajaran dimulai.
Guru ‘asyik’ dengan program dan target kurikulumnya sendiri. Bahkan, guru sendiri tidak sempat membaca buku non pelajarannya, hanya membaca buku mata pelajarannya sendiri sebagai persiapannya untuk mengajar. Kenyataan tersebut mulai dikurangi dengan penerapan Kurikulum 2013, ada kegiatan literasi, baik dalam proses pembelajaran maupun diluar proses pembelajaran. Selama kondisi dalam kehidupan keluarga masih belum mendukung upaya pengembangan minat dan kemampuan membaca siswa, maka tentu upaya guru dan sekolah melakukan gerakan literasi masih perlu banyak usaha dan perjuangan