
KETIKA SEKOLAH KEKURANGAN SISWA
Dalam pemberitaan koran Radar Banjarmasin, Selasa, 17 Juli 2018, pada halaman 1 dengan judul “ Sekolah Swasta Tak kebagian Siswa “, dengan subjudul “ Tak Ada Murid Baru, Swasta Tuding Sekolah Negeri Langgar Aturan “. Menurut koran ini, ada salah satu sekolah swasta, yaitu SMP PGRI 2 Banjarmasin yang masih belum dapat siswa baru, bahkan tidak ada yang mendafatar sejak dibuka sampai saat ini. Kemudian, masih menurut koran ini, ada beberapa faktor yang menyebabkan ada mengapa sekolah swasta tidak mendapatkan siswa baru, salah satunya karena dampak sistem zonasi membuat murid jauh tak mendaftar.
Fenomena menurunnya jumlah siswa di sekolah pada tahun pelajaran 2018/2019 ini, merupakan sebuah tantangan berat bagi kepala sekolah dan guru. Bagi kepala sekolah, penurunan jumlah siswa di sekolahnya, akan berdampak kepada penerimaan dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS, karena dana BOS diberikan kepada sekolah berdasarkan data jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. Dengan demikian, semakin menurun jumlah siswa dari tahun-tahun sebelumnya, maka akan berdampak pula terhadap kegiatan atau operasional sekolah yang selama ini dibiayai dari dana BOS, seperti pembayaran gaji bagi guru honorer, pemeliharaan fasilitas dan sarana sekolah, dan sebagainya.
Sedangkan bagi guru, dampak berkurangnya jumlah siswa juga akan berimbas pada berkurangnya jumlah mengajar, karena jumlah kelas juga berkurang. Hal tersebut, akan berakibat pada berkurangnya jumlah jam mengajar, terlebih lagi kalau guru mata pelajaran sejenis cukup banyak jumlahnya di sekolah tersebut, misalnya guru mata pelajaran IPA. Dengan berkurangnya jumlah jam mengajar tersebut, maka guru akan kekurangan jam wajib mengajar sebagaimana dipersyaratkan bagi guru penerima tunjangan sertifikasi, yaitu 24 jam per minggu.
Kekurangan jumlah jam mengajar di sekolah ini, dapat membuat guru akan mencari tambahan jam pelajaran ke sekolah lain, agar dapat memenuhi atau mencukupi jam wajib mengajarnya untuk memperoleh tunjangan sertifikasi guru yang sangat diharapkan tersebut. Kondisi ini, juga dapat membuat kepala sekolah harus berpikir keras bagaimana memberikan solusi kepada guru agar dapat tetap mengajar di sekolah sendiri, tidak menambah jam pelajaran ke sekolah lain, khusunya bagi guru yang sudah bersertifikasi. Bagaimana pun, kalau banyak guru di sekolahnya harus keluar menambah jam pelajaran, kepala sekolah akan merasa prihatin dengan kondisi sekolah yang dipimpinnya, karena sering ditinggalkan oleh guru di sekolahnya yang menambah jam mengajar di sekolah lain.
Guru merupakan tenaga inti yang menggerakkan proses pembelajaran di sekolah, tanpa kehadiran peran dan guru di kelas, maka mustahil proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Ketika guru harus mencari jam tambahan mengajar ke sekolah lain yang jaraknya relatif jauh, maka tentu proses pembelajaran kurang diperhatikan mutu dan prosesnya, karena guru kelelahan atau tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, terlebih guru tersebut seorang wanita.
Apabila sekolah pada setiap tahun pelajaran baru mengalami proses penurunan jumlah siswanya, maka tidak menutup kemungkinan sekolah tersebut ditutup atau digabung dengan sekolah lain yang terdekat, karena mengalami kemerosotan jumlah siswa yang berlangsung terus-menerus.
Masalah sekolah kekurangan siswa pada tahun pelajaran 2018/2019, khususnya jenjang SMP sebagaimana diberitakan oleh koran Radar Banjarmasin tersebut, perlu mendapat perhatian oleh semua pihak yang terkait, khususnya dinas pendidikan. Ada hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya, dan akan berdampak pula terhadap mutu pelayanan sekolah terhadap siswanya, yang pada saatnya dapat pula berpengaruh terhadap mutu sekolah dan dunia pendidikan .
###1004###