MPLS dan SEKOLAH MENYENANGKAN
Tahun pelajaran baru 2018/2019 sudah diambang pintu, dan berbagai persiapan untuk menyambut tahun pelajaran baru tersebut sudah dimulai sejak awal oleh sekolah. Diawali dengan dibentuknya kepanitiaan PPDB dan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), dan kemudian penyusunan program, jadwal, pemateri kegiatan MPLS. Persiapan secara administrasi seudah dilaksanakan, sekarang tinggal pelaksanaan operasional MPLS itu sendiri yang bersamaan dengan awal hari belajar tahun pelajaran baru.
Kelaziman sekolah melaksanakan kegiatan MOS yang sekarang menjadi MPLS ini merupakan upaya strategis sekolah menyiapakn fisik dan psikis peserta didik baru dengan lingkungan belajarnya yang baru, sehingga diharapkan peserta didik baru memiliki kesiapan mental dan fisik dalam mengikuti proses pendidikan di sekolahnya yang baru tersebut. Dengan pelaksanaan MPLS bagi peserta didik baru, diharapkan dapat menghilangkan praktik perpoloncoan terhadap peserta didik baru, sehingga peserta didik baru dapat merasa aman dan menikmati suasana yang lebih baik di sekolahnya yang baru.
Sekolah sudah seharusnya menjadi lingkungan yang menyenangkan dan aman bagi ,sehingga mereka mampu menjadi peserta didik yang berbudi pekerti luhur, berilmu pengetahuan, dan berkarater. Berkaitan dengan kegiatan MPLS sebagai langkah awal mereka memasuki kehidupan sebagai warga sekolah yang baru, maka tentunya dengan kegiatan MPLS diarahkan menjadi pembelajaran untuk mengenal dan beradaptasi dengan lingkungan baru, mengerti hak dan kewajiban, mengetahui dan mentaati peraturan dan norma yang berlaku di sekolah, serta mengembangkan bakat dan potensi yang ada pada dirinya.
Penanaman konsep pengenalan potensi diri peserta didik tidak selalu identik dengan penampilan fisik peserta didik baru yang dipenuhi atribut seperti topi lebar, membawa sapu dan bakul, memasang nama sendiri yang dikalungkan, rambut siswa putri yang dikepang dan berpita, serta berbagai bentuk ‘keanehan’ lainnya. Kegiatan PLS sejatinya menjadi kegiatan yang menyenangkan dan membuat peserta didik baru merasa nyaman dan gembira, dan demikian pula bagi orangtua mereka.
Pada kenyataannya, ketika kegiatan MOS dulu yang dilaksanakan oleh sekolah, membuat peserta didik baru merasa kurang nyaman, was-was, dan kondisi psikis lainnya. Hal tersebut juga dirasakan oleh orangtua mereka. Kegiatan MOS dulu diplesetkan menjadi “ Membuat Orangtua Stress”, karena orangtua terpaksa ikut sibuk dan pusing dengan adanya berbagai hal yang harus disiapkan dan disediakan untuk anak mereka yang mengikuti MOS. Tidak jarang orangtua pontang-panting mencarikan sesuatu barang yang mesti ada untuk dibawa oleh anaknya sebagai syarat atau permintaan kakak pendampingnya, dan barang tersebut ‘wajib’ ada.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan dapat melaksanakan MPLS sesuai dengan petunjuk dan arahan yang telah digariskan, sehingga kegiatan MPLS dapat menjadi’ pintu masuk’ yang menyenangkan bagi peserta didik baru di sekolah yang akan menjadi tempat mereka menempa diri menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berilmu pengetahuan, dan mengembangkan bakat dan minatnya secara optimal.
Dengan adanya MPLS dapat pula mengurangi atau bahkan menghilangkan sikap dan perilaku yang cenderung merusak pergaulan dan kehidupan peserta didik di sekolah, seperti perundungan atau bullying, tindak pelecehan, dan bentuk kekerasan lainnya. Perubahan sikap dan perilaku peserta didik baru di sekolah yang baru dapat membuka kesempatan bagi peserta didik yang lama untuk menanamkan ‘pengaruhnya’ melalui berbagai cara, seperti perundungan atau bullying. Pihak sekolah melalui guru pembimbing MPLS diharapkan mampu mencegah dan menghilangkan segala bentuk perlakuan yang membuat peserta didik baru betah, aman, dan menyenangkan.
#####